Langsung ke konten utama

Hujan, Kenangan, dan Imajinasi


Malam ini hatiku sedang sendu

Aku berharap hujan turun menemani sepiku

Namun sayangnya, tak ada lagi hujan turun dari langit itu


Hari ini pun hujan hanya sepintas lalu

Hanya membasuh debu yang menempel di atap rumahku

Dan sekarang aku rindu, pada musim hujan yang tampaknya akan segera berlalu


Rindu pada dinginnya yang membelai kulitku

Rindu pada aromanya yang menggelitik penciumanku

Rindu pada syahdunya suasana yang menenangkan kalbuku

Rindu pada setiap keping kenangan yang dibawanya bersama sang bayu


Semoga esok hujan datang menyapaku

Membasuh lukaku dan mengukir senyumku


Semalam saya menulis puisi itu sambil berharap hujan turun seperti malam-malam sebelumnya, namun hujan tak kunjung datang. Untungnya siang ini hujan datang menyapa seperti harapan saya dan mood menulis pun langsung muncul. Suasana mendung memang paling asyik untuk melakukan hal-hal yang tidak membutuhkan banyak gerakan fisik seperti menulis ini. Apalagi jika hujan datang, rasanya inspirasi bertaburan di otak saya.


"Hujan itu 1% air, 99% kenangan." Kalimat tentang hujan ini begitu populer. Entah siapa yang pertama kali mencetuskannya, tapi saya setuju dengan itu. Saat hujan turun, apalagi ditambah suasana yang sepi, biasanya berbagai kenangan akan muncul dalam benak saya. Mulai yang indah-indah hingga yang kurang menyenangkan. Dari kenangan inilah inspirasi itu muncul.


Biasanya saya paling suka menulis puisi ketika hujan datang. Suasananya selalu terasa pas untuk merangkai kata-kata puitis, romantis, atau dramatis. Walaupun belum terlalu jago membuat puisi, namun dari dulu saya suka melakukannya. Ada banyak puisi yang saya hasilkan di masa muda saya, meskipun saya lupa disimpan dimana semua puisi itu sekarang. 


Dua puisi yang saya ingat pernah saya tulis dengan judul Hujan. Puisi pertama berjudul "Sebuah Irama Kala Hujan" yang saya tulis di Multiply sekitar tahun 2009. Sayangnya saya tidak ingat lagi menyimpan dimana puisi ini. Kedua adalah puisi berjudul "Hujan Pertama" yang saya tulis di blog asrilestari.com pada tahun 2014. Puisi inilah yang menginspirasi lahirnya cerita pendek dengan judul yang sama, yang tergabung dalam buku antologi pertama saya dengan judul "Mosaik Waktu."


Buku Antologi Mosaik Waktu

Di hari-hari panas beberapa minggu kemarin aku selalu berpikir dimana dan dengan siapa aku akan melewati hujan pertamaku...
Apakah sendiri di dalam kamar...
Atau di kantor saat aku bekerja...
Atau di jalan dikelilingi orang2 tak dikenal...
Tidak ada yang tau...
Entah kenapa, buat aku menunggu hujan pertama adalah peristiwa yg sangat berkesan...
Rasanya seperti menyambut kekasih yg telah lama tidak bertemu...
Ada rindu yg begitu menggebu yg ingin segera terselesaikan...
Dan segala rinduku luruh sudah...
Bersama deras hujan malam itu...
Aku kembali utuh...


(Hujan Pertama - Asri Lestari)

Begitulah puisi asli yang menjadi inspirasi ditulisnya cerpen "Hujan Pertama". Namun saya pangkas dan edit lagi begitu masuk ke dalam cerpen. Selain terinspirasi dari puisi tersebut, cerpen ini juga wujud kenangan saya akan tempat-tempat dan suasana di Pulau Bali. Tempat yang pernah menjadi "rumah" saya selama 4 tahun lamanya. Namun untuk cerita, 100% fiksi. Hasil buah imajinasi. Ternyata hujan, kenangan, dan imajinasi bisa terangkum apik menjadi sebuah karya.


#RumbelMenulisIPBatam #RulisKompakan

#KomunitasIPBatam

Komentar

  1. Keren, mba Asri..

    Betul banget. Hujan itu ga hanya bikin kita jatuh tertidur dan bermimpi. Tapi juga membangun mimpi saat terjaga plus kawanan kenangannya. Hehe

    Terus nelurin karya sampai nerbitin buku berikut-berikutnya lagi ya mba.. Mudah-mudahan aku bisa ikut nyempil pas ada yg mau nyusun antologi. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin. Semoga bisa bikin buku juga ya mbk. Tulisan mbak Fanny keren-keren lho. Apalah tulisanku yang masih receh ini

      Hapus
  2. Keren banget sih udah menerbitkan buku. Semangat terus ya mbk Asri

    BalasHapus
  3. Hmm.. imajinasi yang didukung pengalaman pribadi nampaknya ya.. X))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengalaman pribadi tempat-tempatnya iya. Kalo kejadiannya fiksi semua mbak. Dan semoga selama-lamanya hanya jadi fiksi. Jangan sampe lha jadi nyata. Serem hahahaha

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih "Be with You" sebagai "Menu Berbuka"

Annyeong!
Ini adalah blog baruku. Dibuat dalam rangka mengikuti tantangan menulis dengan judul "Challenge 30 Topik Seputar Koriya" yang diadakan WAG Drakor dan Literasi. WAG ini adalah "anak" dari Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Sebetulnya tidak ada hubungannya dengan KLIP sih. Hanya saja sekarang ini anggotanya kebanyakan (atau semua) berasal dari peserta KLIP yang suka dengan hal-hal berbau Korea. Mulai dari drama, film, K-Pop hingga kebudayaan.
Kenapa blog baru? Karena blog lama sudah didedikasikan untuk tulisan yang berhubungan dengan travelling saja (Blog lama bisa dilihat disini). Jadi merasa kurang "pas" jika diselingi tulisan tentang per-korea-an. Nantinya blog ini akan berisi bermacam tulisan. Apapun! Tulisan lama saya di blog terdahulu yang tidak ada kaitannya dengan travelling juga akan dipindahkan ke sini. Baiklah begitu saja pembukaannya. Lanjut ke inti tulisan dulu. 😁
Tulisan pertama di blog baru ini dibuat demi memenuhi topik teratas d…

Peringkat Teratas Oppa, Unnie, dan Dongsaeng Favorit

Bulan Agustus ini, jumlah tantangan Drakor dan Literasi dikurangi menjadi 5 topik saja, setelah dua bulan sebelumnya kami menulis 10 topik setiap bulannya. Tampaknya kami mulai mencapai titik jenuh. Menulis topik yang sama terus menerus ternyata juga bisa membuat kita kehabisan ide. Belum lagi isi blog jadi penuh dengan bahasan tentang drama Korea. Bagi yang blognya dikhususkan untuk tema tersebut tidak masalah, tapi bagi yang lain mungkin sedikit kurang nyaman.
Topik minggu ini adalah "Oppa/Unnie/Dongsaeng Favorit". Sebetulnya tidak ada aktor maupun aktris Korea yang benar-benar menjadi favorit saya, atau seringkali disebut dengan Bias. Namun ada beberapa diantara mereka yang sering saya tonton dramanya dan saya suka aktingnya, bahkan terkadang sampai ada perasaan "Kalau dia yang bermain drama atau film, saya harus menontonnya". Mari kita sebut saja sebagai favorit saya, dan inilah urutan tiga teratas dari oppa, unnie dan dongsaeng favorit saya.
OPPA FAVORIT
Oppa, se…

"Tempat" Menonton Drama Korea dari Masa ke Masa

Setelah sebelumnya membahas awal cerita jatuh cinta dengan drama korea, akhir minggu ini kita masuk topik ke-3 dari challenge yang diadakan WAG Drakor dan Literasi. Topik yang diangkat kali ini adalah "Biasa nonton drakor dimana?"
Baca juga : Kenapa Jatuh Cinta dengan Drama Korea?
Jadi dimana biasanya saya menonton drama korea? Kebiasaan menonton saya dari awal hingga saat ini secara garis besar terbagi menjadi tiga fase.
Fase 1 : Masa SMP hingga SMA (2000-2006)Masa ini adalah masa dimana pengguna internet belum sebanyak sekarang. Rata-rata ponsel pun belum bisa mengakses internet. Ini adalah masa kejayaan siaran televisi serta VCD dan DVD. Maka dari televisi lah saya mengenal drama korea untuk pertama kalinya. Hampir semua drama korea yang ditayangkan di televisi saya tonton. Asalkan jam tayangnya sore hari, di jam saya pulang sekolah. Namun terkadang saya harus merelakan tertinggal beberapa episode jika ada pelajaran tambahan atau les.
Sepertinya zaman itu belum banyak juga ya…