Langsung ke konten utama

Dari Ketiga Buku Dewi Lestari Ini, Mana Favorit Kalian?

Review buku? Jujur saja saya bingung mau menulis review tentang buku apa ketika tiba-tiba nama saya muncul dari "roda berputar" itu. Saya belum pernah menulis review buku secara mendalam seperti yang sering saya baca di blog atau website orang.  Biasanya saya hanya mereview secara garis besar. Jadi mohon maaf jika review buku saya kurang memuaskan. 😁


Tulisan ini saya buat untuk memenuhi tugas Rumbel Menulis Ibu Profesional Batam. Setelah berpikir lama, akhirnya saya memutuskan mereview beberapa buku yang saya baca ulang di bulan Mei 2020. Sebetulnya saya ingin membahas novel yang terakhir saya baca, yaitu The Golem's Eye, buku kedua dari The Bartimaeus Trilogy. Namun novel tersebut masih "ongoing". Saya baru membacanya sampai halaman 127 dari total 624 halaman. Jadi kita pilih buku yang lain saja.


Buku yang akan saya bahas adalah buku-buku dari penulis favorit saya, Dewi Lestari atau yang dikenal dengan nama pena "Dee". Ada 3 buku dari Dee yang saya baca di bulan Mei lalu. Ketiganya adalah kumpulan cerpen: Rectoverso, Filosofi Kopi, dan Madre. Saya membacanya karena saat itu mendapat tugas untuk menulis cerpen dan novelet, sehingga saya merasa ketiga buku itu bisa dijadikan referensi. Saya yakin sudah banyak teman-teman yang mengenal bahkan membaca buku-buku tersebut, apalagi ketiga buku itu juga sudah diangkat ke layar lebar, tapi izinkan saya tetap membahasnya dari sudut pandang saya.


RECTOVERSO


Rectoverso itu bukan hanya buku. Rectoverso adalah hibrida dari kumpulan kisah cinta dan playlist lagu romansa. Jadi proyek Rectoverso ini ada dalam bentuk buku dan juga CD lagu.  Dalam bukunya sendiri, yang berjumlah 185 halaman, ada 11 cerita dan 11 lirik lagu dengan judul yang sama, yang saling berkaitan. Saya senang sekali membaca bukunya sambil mendengarkan lagu-lagunya, apalagi saat hari hujan. Rasanya saya tenggelam dalam setiap ceritanya.


Setiap cerita, setiap lagu, begitu mengena di dalam hati. Namun favorit saya tetap jatuh pada sebuah kisah dan lagu dengan judul "Curhat Buat Sahabat". Curhat Buat Sahabat bercerita tentang seorang perempuan yang sedang putus cinta, lalu mengundang sahabatnya untuk menemaninya dan mendengar curhatnya. Sang sahabat yang begitu setia tetap datang meskipun sedang sakit. Ide ceritanya sangat sederhana, namun bisa membuat pembaca larut di dalam kesederhanaan itu.


Begitu pula dengan 10 cerita lainnya. Ide yang diangkat semuanya sederhana. Seperti pada cerita yang berjudul "Peluk". Dalam ceritanya hanya digambarkan perasaan sepasang kekasih yang memutuskan berpisah. Kisah itu hanya menggambarkan satu adegan perpisahan saja, namun bisa begitu mengena. Begitu juga dengan "Selamat Ulang Tahun" yang bercerita tentang usaha seseorang untuk mengucapkan, dan seseorang yang menanti ucapannya. Biasa namun tidak biasa. Begitulah rasanya ketika membaca buku ini.


FILOSOFI KOPI


Sama seperti buku Rectoverso, buku Filosofi Kopi juga merupakan sebuah kumpulan cerita. Ada 16 cerita dalam buku ini, tapi yang paling utama adalah cerita Filosofi Kopi itu sendiri. Sedikit berbeda dengan Rectoverso yang kental dengan hawa "Cinta", cerita dalam Filosofi Kopi ini terasa lebih beragam.


Filosofi kopi bercerita tentang sepasang sahabat, Jody dan Ben yang membuka sebuah kedai kopi bersama. Ben sebagai Barista yang berinteraksi langsung dengan para pelanggan dan Jody sebagai keuangan merangkap "kasir". Kedai mereka sangat laris karena kopi buatan Ben yang terkenal enak, bahkan ada yang bilang kopi racikannya sempurna. Sampai pada suatu hari ada seorang bapak yang datang ke kedai mereka dan berkata bahwa kopinya hanya "enak". Ada kopi yang lebih enak dari buatan Ben di luar sana. Ben terpukul dengan kenyataan itu dan memaksa Jody menutup kedai dan pergi mencari kopi yang katanya lebih enak itu. Berbekal informasi seadanya dari bapak tersebut, mereka pun melakukan perjalanan mencari kopi itu.


Dari 16 cerita ini yang membuat saya terkesan dan terus terngiang-ngiang hanya cerita pertama "Filosofi Kopi" dan cerita terakhir "Rico de Coro". Cerita terakhir ini mengisahkan seekor kecoak yang jatuh cinta kepada seorang gadis. Ya benar. Seorang gadis. Seorang manusia. Bayangkan seekor kecoak jatuh cinta kepada manusia! Hebat kan? Siapa yang bisa melupakan cerita semacam itu.


MADRE


Buku Madre yang saya ingat ada dua versi. Versi pertama adalah sebuah kumpulan cerita seperti Rectoverso dan Filosofi Kopi. Di dalamnya terdapat 13 cerita termasuk Madre. Lalu setelah Madre diangkat ke layar lebar, cerita Madre kembali diterbitkan dalam bentuk novelet. Nah, yang saya baca ulang kemarin adalah versi noveletnya. Isinya hanya cerita Madre saja.


Madre sendiri berkisah tentang Tansen. Seorang surfer di Bali yang tiba-tiba harus datang ke Jakarta karena mendapat warisan dari orang tidak dikenal. Warisan itu berupa kunci. Kunci itu membawanya pada sebuah toko roti legendaris bernama Tan De Baker. Di toko tersebut dia bertemu dengan seorang "mantan" karyawan toko roti tersebut yang bernama Pak Hadi.


Awalnya saya pikir Tansen mendapat warisan toko roti tersebut. Ternyata saya salah. Warisan Tansen ada di dalam lemari pendingin yang kuncinya diwariskan kepadanya, dan isi lemari pendingin tersebut adalah adonan biang roti. Tentu saja Tansen bingung untuk apa dia mewarisi adonan biang tersebut. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Mei, seorang gadis pebisnis yang dikenalnya dari blog. Tansen memang rutin menulis pengalaman hidupnya di sebuah blog dan Mei mengaku sebagai salah satu fansnya. Pertemuan tersebut membuatnya sadar akan pentingnya adonan biang tersebut. Tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk Mei, Pak Hadi dan toko roti Tan de Baker yang sudah lama mati suri.


Saya suka cerita Madre karena menyadarkan saya bahwa sesuatu yang berharga itu tidak selalu tampak berharga pada awalnya. Namun bisa jadi setelah kita tahu kelebihannya, barulah kita tahu bahwa sesuatu itu tidak seperti yang kita pikirkan pada awalnya. Bisa jadi sesuatu itu malah menjadi hal yang sangat berharga dan membawa kebaikan dalam hidup kita.


Jadi apakah teman-teman semua sudah membaca buku ini? Buku mana yang menjadi favorit kalian? Kalau buat saya, Rectoverso yang jadi juaranya 😉

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih "Be with You" sebagai "Menu Berbuka"

Annyeong!
Ini adalah blog baruku. Dibuat dalam rangka mengikuti tantangan menulis dengan judul "Challenge 30 Topik Seputar Koriya" yang diadakan WAG Drakor dan Literasi. WAG ini adalah "anak" dari Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Sebetulnya tidak ada hubungannya dengan KLIP sih. Hanya saja sekarang ini anggotanya kebanyakan (atau semua) berasal dari peserta KLIP yang suka dengan hal-hal berbau Korea. Mulai dari drama, film, K-Pop hingga kebudayaan.
Kenapa blog baru? Karena blog lama sudah didedikasikan untuk tulisan yang berhubungan dengan travelling saja (Blog lama bisa dilihat disini). Jadi merasa kurang "pas" jika diselingi tulisan tentang per-korea-an. Nantinya blog ini akan berisi bermacam tulisan. Apapun! Tulisan lama saya di blog terdahulu yang tidak ada kaitannya dengan travelling juga akan dipindahkan ke sini. Baiklah begitu saja pembukaannya. Lanjut ke inti tulisan dulu. 😁
Tulisan pertama di blog baru ini dibuat demi memenuhi topik teratas d…

Peringkat Teratas Oppa, Unnie, dan Dongsaeng Favorit

Bulan Agustus ini, jumlah tantangan Drakor dan Literasi dikurangi menjadi 5 topik saja, setelah dua bulan sebelumnya kami menulis 10 topik setiap bulannya. Tampaknya kami mulai mencapai titik jenuh. Menulis topik yang sama terus menerus ternyata juga bisa membuat kita kehabisan ide. Belum lagi isi blog jadi penuh dengan bahasan tentang drama Korea. Bagi yang blognya dikhususkan untuk tema tersebut tidak masalah, tapi bagi yang lain mungkin sedikit kurang nyaman.
Topik minggu ini adalah "Oppa/Unnie/Dongsaeng Favorit". Sebetulnya tidak ada aktor maupun aktris Korea yang benar-benar menjadi favorit saya, atau seringkali disebut dengan Bias. Namun ada beberapa diantara mereka yang sering saya tonton dramanya dan saya suka aktingnya, bahkan terkadang sampai ada perasaan "Kalau dia yang bermain drama atau film, saya harus menontonnya". Mari kita sebut saja sebagai favorit saya, dan inilah urutan tiga teratas dari oppa, unnie dan dongsaeng favorit saya.
OPPA FAVORIT
Oppa, se…

"Tempat" Menonton Drama Korea dari Masa ke Masa

Setelah sebelumnya membahas awal cerita jatuh cinta dengan drama korea, akhir minggu ini kita masuk topik ke-3 dari challenge yang diadakan WAG Drakor dan Literasi. Topik yang diangkat kali ini adalah "Biasa nonton drakor dimana?"
Baca juga : Kenapa Jatuh Cinta dengan Drama Korea?
Jadi dimana biasanya saya menonton drama korea? Kebiasaan menonton saya dari awal hingga saat ini secara garis besar terbagi menjadi tiga fase.
Fase 1 : Masa SMP hingga SMA (2000-2006)Masa ini adalah masa dimana pengguna internet belum sebanyak sekarang. Rata-rata ponsel pun belum bisa mengakses internet. Ini adalah masa kejayaan siaran televisi serta VCD dan DVD. Maka dari televisi lah saya mengenal drama korea untuk pertama kalinya. Hampir semua drama korea yang ditayangkan di televisi saya tonton. Asalkan jam tayangnya sore hari, di jam saya pulang sekolah. Namun terkadang saya harus merelakan tertinggal beberapa episode jika ada pelajaran tambahan atau les.
Sepertinya zaman itu belum banyak juga ya…