Langsung ke konten utama

Jenis Drama Korea yang Bikin "Ilfil"


Awal minggu ini masuk ke topik ke-6 tantangan WAG Drakor dan Literasi, yaitu "Drama korea yang enggan ditonton". Seperti yang sudah pernah saya tulis di postingan sebelumnya, saya senang menonton tayangan bergenre apapun, kecuali horor, sadis dan mengandung banyak darah. Ketiga hal itu yang paling tidak bisa saya hadapi baik dalam tontonan maupun bacaan.


Drama bergenre horor adalah yang paling pertama dan utama yang saya hindari. Namun ada kalanya saya tergoda untuk menonton drama seperti itu. Beberapa membuat saya takut di awal, namun akhirnya memberanikan diri karena penasaran. Contohnya Master Sun (2013). Saya pertama menonton drama ini pada awal rilisnya, yaitu tahun 2013. Teman saya yang sudah mulai menonton merekomendasikannya kepada saya. Katanya dramanya bagus. Namun di episode pertama saya sudah disuguhi hantu-hantu yang menyeramkan, sehingga mengurungkan niat untuk menonton.


Sekitar tahun 2016 akhirnya saya mencoba menonton lagi drama ini. Drama ini menampilkan Gong Hyo Jin dan So Ji Sub sebagai pemeran utama. Bercerita tentang seorang perempuan yang bisa melihat hantu dan seorang laki-laki kaya pemilik hotel dan department Store. Pada suatu hari mereka bertemu dan akhirnya terlibat dalam berbagai kejadian yang melibatkan para hantu. Seru, tegang, lucu semua terangkum menjadi satu dalam drama yang satu ini.


Setiap ada hantu muncul, saya alihkan layar handphone ke arah lain, sambil saya mengintip apakah adegan tersebut telah usai. Jika sudah hilang hantunya, atau berubah menjadi tidak seram, saya menonton lagi. Begitu seterusnya sampai tamat 17 episode. Hal yang sama saya lakukan ketika menonton Hwayugi / A Korean Odyssey (2017) dan Black (2017). Ternyata cerita ketiga drama ini memang bagus, walaupun sedikit seram, dan saya tidak menyesal sudah memberanikan diri menontonnya.


Ada juga drama bergenre horor yang awalnya biasa namun di tengah-tengah membuat saya memutuskan untuk tidak menontonnya lagi seperti Lovely Horribly (2018). Hantu-hantu yang muncul awalnya biasa saja, tapi kemudian ada hantu yang muncul dengan sosok seram dan tidak hanya satu kali munculnya. Saya menonton drama ini bersama suami, jadi ketika hantu tersebut mulai muncul saya menutup mata. Kata suami saya hantunya seram dan berdarah-darah. Lalu setelah itu saya enggan menonton lagi. Padahal ceritanya cukup membuat saya penasaran. Jika ada teman-teman yang pernah menontonnya, boleh berbagi ending drama ini di kolom komentar.


Soal darah-darah ini tidak hanya saya temukan di drama bergenre horor atau sadis. Drama terakhir yang saya hentikan di tengah-tengah karena tidak tahan dengan luka dan darah yang ditampilkan adalah drama berjudul Dr. Romantic (2016). Cerita tentang dokter merupakan salah satu jenis drama yang saya sukai, walaupun terkadang adegan medisnya membuat saya memalingkan layar handphone seperti saat menonton drama horor. Namun adegan pasien luka bakar di drama Dr. Romantic ini sudah melewati taraf kesanggupan saya untuk menyaksikan. Jadi, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi demi kesehatan mental saya.


Beberapa drama saya putuskan untuk tidak ditonton setelah mendengar cerita teman, meskipun sebelumnya saat membaca sinopsis saya sempat tergoda. Strangers From Hell (2019) dan Hotel Del Luna (2019) adalah contoh drama yang masuk kategori ini. Saya sudah membayangkan keseraman kedua drama ini meski belum menontonnya sendiri.


Selain dari sisi genre, ada beberapa hal lain yang membuat saya meninggalkan sebuah drama atau bahkan tidak berminat menontonnya sama sekali. Alasan tersebut antara lain :


Cerita kurang menarik, membosankan, tidak membuat penasaran dan akting pemain kurang memuaskan. Baik drama yang sudah saya mulai tonton atau baru dibaca sinopsisnya, jika masuk dalam kriteria tersebut pasti saya tinggalkan. Tentu saja banyak sekali drama yang masuk dalam kategori cerita kurang menarik ini (Kurang menarik bagi saya belum tentu bagi orang lain pastinya). Kalau tidak pasti saya sudah menonton hampir semua drama korea 🤣


Drama yang terlalu banyak beredar spoiler-nya. Salah satu drama yang masuk kategori ini adalah The World of the Married (2020). Awal teman-teman mulai membahas drama ini saya tertarik menonton. Rencana saya akan saya tunggu hingga episodenya lengkap, karena saat ini saya malas mengikuti drama ongoing. Namun dalam penantian ini dramanya semakin booming, sehingga banyak orang mulai membahasnya. Mulai dari orang biasa, pakar keuangan hingga psikologi. Ulasan ini tentu saja mengandung spoiler dan mempengaruhi pemikiran saya. Jadi saya memutuskan untuk tidak menontonnya.


Penampilan para pemainnya kurang menarik. Tidak dapat dipungkiri keindahan visual yang ditawarkan oleh para aktor dan aktris yang bermain dalam drama korea adalah salah satu nilai jual yang menarik para penonton, termasuk saya. Maka rasanya kurang lengkap drama korea tanpa aktris cantik dan aktor tampan. Drama korea yang tidak memuaskan saya secara visual mulai dari cover dramanya adalah Reply 1994 (2013) dan Reply 1988 (2015). Entah kenapa melihat covernya saja sudah membuat saya enggan menonton.


Drama berjudul Welcome to Waikiki (2018) juga merupakan salah satu drama yang saya tinggalkan setelah beberapa episode. Meskipun suami saya menontonnya sampai tamat dan merekomendasikannya karena lucu, saya tidak bisa menemukan keseruan di dalam ceritanya ketika berusaha menonton. Apalagi tampilan pemainnya biasa saja menurut saya. Jadi drama ini masuk kriteria satu dan tiga sekaligus. 🤭


Demikian curhatan saya tentang drama korea yang enggan di tonton. Terima kasih sudah membaca hingga akhir. 😁

Komentar

  1. Waw suami juga suka nonton drakor Mba? Enak ada temen'y ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya saya ajak nobar. Dia mau sih nonton apa aja kaya saya.

      Kadang-kadang kalau ada yang bikin dia tertarik dia nonton sendiri. Tergantung mood dia aja.

      Tp tetep sih yg paling dia suka anime. Kadang saya juga diajak nobar aminenya dia 😁

      Hapus
  2. Aku juga drop di Welcome to Waikiki.
    Weird.
    Dan bener...bener, paling males sama drama yang dibahas orang.
    Beragam opini berasa bikin Aahh...gitu doankk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. Iya betul. Spoiler tipis2 oke lha buat pertimbangan. tp kl udah terlalu mendetail males yak

      Hapus
  3. aku juga ga kelar waikiki dan ga sukses nonton reply 1988. untuk yang reoly 1988 mungkin akan diberikan second chance, kalau waikiki kayaknya lupakan sajah hahaha....

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku reply 1988 belum pernah lihat sama sekali malah. yg 1994 lihat episode pertama aja trs udh males

      Hapus
  4. Wah kok sama, klo pemainnya g menarik amu males nontonya..
    Hehe

    BalasHapus
  5. Asyik ih mbak nontonnya sama suamik. Hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peringkat Teratas Oppa, Unnie, dan Dongsaeng Favorit

Bulan Agustus ini, jumlah tantangan Drakor dan Literasi dikurangi menjadi 5 topik saja, setelah dua bulan sebelumnya kami menulis 10 topik setiap bulannya. Tampaknya kami mulai mencapai titik jenuh. Menulis topik yang sama terus menerus ternyata juga bisa membuat kita kehabisan ide. Belum lagi isi blog jadi penuh dengan bahasan tentang drama Korea. Bagi yang blognya dikhususkan untuk tema tersebut tidak masalah, tapi bagi yang lain mungkin sedikit kurang nyaman. Topik minggu ini adalah " Oppa/Unnie/Dongsaeng Favorit ". Sebetulnya tidak ada aktor maupun aktris Korea yang benar-benar menjadi favorit saya, atau seringkali disebut dengan Bias. Namun ada beberapa diantara mereka yang sering saya tonton dramanya dan saya suka aktingnya, bahkan terkadang sampai ada perasaan "Kalau dia yang bermain drama atau film, saya harus menontonnya". Mari kita sebut saja sebagai favorit saya, dan inilah urutan tiga teratas dari oppa, unnie dan dongsaeng favorit saya. OPPA FAVORIT Opp

Kenapa Jatuh Cinta dengan Drama Korea?

Drama Lawas, Autumn in My Heart Drama Korea adalah salah satu jenis tontonan yang banyak disukai. Dari mulai remaja, ibu-ibu hingga bapak-bapak di luar sana senang menonton tayangan yang satu ini. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, dimana masyarakat dihimbau untuk di rumah saja jika tidak memiliki keperluan penting, semakin banyaklah penikmat drakor bertebaran.  Saya sendiri sudah belasan tahun menjadi penikmat drama Korea. Sejak Endless Love/Autumn in My Heart tayang di stasiun televisi Indonesia. Drama ini bercerita tentang anak yang tertukar (atau sengaja ditukar?), dimana akhirnya kembali ke orang tua masing-masing. Lalu setelah dewasa "mantan" kakak adik yang terpisah bertemu kembali dan saling jatuh cinta.  Cerita ini sukses membuat saya gagal move on hingga saat ini. Apalagi episode-episode awal yang menceritakan harmonisnya hubungan kakak beradik itu saat masih di bangku sekolah. Saya yang seorang anak sulung merasa begitu "iri". Seru membayangka

Sudahkah Anda Menonton Proposal Daisakusen (2007)?

Jika berbicara tentang drama asia, sebagian besar orang akan teringat pada drama Korea yang beberapa tahun terakhir sedang berjaya. Padahal sebelum drama Korea booming , drama Jepang dan Cina/Taiwan telah dikenal lebih dahulu, khususnya di Indonesia. Setelah ketiga negara itu, drama Thailand pun mulai dikenal oleh para pecinta drama. Baca juga : Efek Samping Menonton Drama Korea Hal unik dari negara-negara ini adalah sering mengadaptasi film atau drama dari manga, manhwa dan sejenisnya, lalu ketika salah satu negara sudah membuat adaptasinya dan sukses, negara lain akan me- remake -nya. Sebut saja drama Taiwan Meteor Garden (2001), yang diadaptasi dari manga Jepang berjudul Hana Yori Dango. Setelah Meteor Garden sukses, muncullah versi-versi dari negara lain seperti Hana Yori Dango (2005) di Jepang, Boys Over Flower (2009) di Korea, dan Meteor Shower (2009) di Cina. Indonesia pun juga mendaur ulang drama ini sebanyak dua kali dengan judul Siapa Takut Jatuh Cinta. Pertama di tahun 2002